Self Defense Mechanism – BAB Formasi Reaksi (reaction formation)


Catatan kali ini merupakan lanjutan dari catatan mengenai Self defense mechanism yang pernah ditulis di blog ini. Jika pada catatan sebelumnya kita membahas tentang BAB Penyangkalan Diri, kali ini kita akan membahas bentuk lain dari pertahan diri manusia, yaitu Formasi Reaksi (reaction formation).


Tidak dapat dipungkiri bahwa Freud dengan Psikoanalisisnya memiliki andil cukup besar untuk menemukan kecenderungan yang dilakukan manusia dalam mempertahankan Ego (dirinya). Kemunculan Self defense mechanism ini di saat manusia merasa terancam, terdesak, dan kehadirannya tidak disadari sama sekali. Sebenarnya hal ini wajar dialami setiap manusia, hanya saja akan menjadi hambatan jika Self defense mechanism dijadikan kebiasaan sebagai bentuk pelarian untuk menolak kebenaran dan realitas yang sebenarnya, padahal tujuan sebenarnya dari Self defense mechanism adalah sebagai bentuk penyesuaian diri (adjustment).


Formasi Reaksi (reaction formation)
Jika Anda berposisi sebagai pemimpin tentu menyepakati adanya aturan-aturan yang harus ditegakkan dalam kelompok/organisasi/perusahaan yang Anda pimpin kan?. Sebagai pemimpin yang baik Anda akan berusaha mati-matian menjalankan setiap aturan yang ada. Bahkan Anda tidak segan-segan memecat anggota yang terbukti berkali-kali melanggar aturan yang telah disepakati bersama. Tetapi Anda juga tidak dapat memungkiri bahwa ada beberapa orang yang memiliki level sama dengan Anda justeru melanggar peraturan tersebut, dan Anda tidak dapat mencegahnya. Maka seiring berjalannya waktu, pelan-pelan Anda mulai tergiur untuk satu demi satu melanggar peraturan. Semakin terbiasa tentu semakin terasa biasa saja.

Oleh Freud orang yang terlihat sangat disiplin sebenarnya adalah orang yang berusaha kuat mati-matian melawan ketidakdisiplinan mereka sendiri. Jika di kaitkan dengan pejabat negeri ini yang menggaungkan slogan ANTI KORUPSI, sebenarnya pejabat tersebut sedang berusaha melawan keinginannya untuk melakukan tindak korupsi, dan terbukti akhirnya pejabat tersebut melakukan korupsi. Ia merasa Ego (dirinya) terancam, dan bentuk Self defense mechanism-nya adalah berperilaku baik, anti korupsi, tampil sebagai pahlawan. Menurut Freud semua dilakukan untuk menutupi keAbnormalan diri pejabat tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan di negeri yang kita cintai ini. Seorang yang terlihat sangat agamais dan bersemangat mengedepankan nilai-nilai keagamaan justeru melakukan tindakan-tindakan asusila, berselingkuh, dan sebagainya.   

Mari kita belajar untuk lebih terampil bersahabat dengan diri sendiri agar mendapatkan kesehatan mental (mental health) yang  didambakan dan dapat diterima oleh lingkungan kita.


Selamat MENERIMA DIRI SENDIRI!

Sumber referensi bacaan:
http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/05/16/sehat-mental-dengan-makanisme-pertahanan-diri-ego-365150.html