Chair Therapy

Jika Anda termasuk orang yang sering mengalami rasa bersalah, atau masih mengalaminya, namun tidak memiliki keberanian untuk mengucapkan kata maaf, atau memiliki kendala karena terputusnya hubungan komunikasi dan jarak dengan seseorang yang dimaksud, Anda patut membaca tulisan ini sampai selesai, karena rasa bersalah yang berlebihan mampu menjadi tekanan emosi negatif yang akan mempengaruhi kebahagiaan Anda dan orang-orang disekitar Anda. Anehnya, rasa bersalah ini menjalar hampir keseluruh sendi kehidupan kita, menggerogoti, dan menyabotase peluang-peluang kebaikan yang ada di depan mata.

Contoh kasus

Seorang mahasiswa tiba-tiba mengalami histeris (kesurupan) saat sedang melakukan aktivitasnya di kampus. Ia meronta-ronta layaknya orang yang kerasukan. Tetapi setelah diinterogasi oleh Hipnoterapist ternyata ia mengalami rasa rindu yang teramat sangat dengan keluarganya di rumah. Ia merasa bersalah karena tidak pernah pulang untuk beberapa waktu yang cukup lama karena kesibukannya di kegiatan kemahasiswaan.

Bagaimana Hipnoterapi membantu menyelesaikan masalah di atas?

Pada saat kejadian kasus di atas, yang saya ketahui Hipnoterapist menggunakan teknik CHAIR THERAPY.

Apa itu CHAIR THERAPY ?
Secara konsep, CHAIR THERAPY merupakan sebuah tool untuk mengungkap gejala yang menyebabkan rasa sedih, marah tanpa sebab, frustasi, dan murung yang disebabkan hilangnya kemampuan mengkomunikasikan yang sedang dirasakan kepada orang lain.
Teknik ini dapat Anda lakukan sendiri, walau untuk hasil maksimal sebaiknya dibimbing oleh seorang Hipnoterapist.
Mahasiswa tadi dibimbing untuk berkomunikasi dengan orang tuanya secara imajinatif yang berada di depannya sampai masalahnya diselesaikan. Dibuat bahwa orang tuanya tidak mempermasahkan dirinya belum sempat pulang dan orang tuanya tetap bangga memiliki anak seperti dirinya.

***
Berikut tahapan untuk melakukannya secara mandiri:
1.    Siapkan dua buah kursi. Satu kursi untuk Anda dan yang satunya letakkan tepat di depan Anda.
2. Berdoa (disarankan) meminta petunjuk dan niatkan di dalam hati bahwa Anda akan melakukan sebuah proses penting untuk kebaikan hidup Anda untuk membenahi. Dilanjutkan dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Dan rasakan tubuh serta pikiran perlahan mulai santai dan relaks. Nikmati dan hayati prosesnya.
3.   Selanjutnya Anda mulai membayangkan sosok yang terkait dengan masalah Anda duduk di kursi kosong. Gambarkan sosoknya senyata mungkin, rasakan kehadirannya benar-benar utuh di hadapan Anda.
4.  Sekarang, Anda memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin Anda katakan. Misalnya meminta maaf, atau apapun yang memang ingin Anda katakan. Bayangkan sosok itu tersenyum pada Anda. Dan sepertinya ia menerima ucapan maaf Anda. Genggamlah tangannya, dan ucapkan TERIMA KASIH karena bersedia memaafkan semua kesalahan Anda. Ucapkan dengan tulus dan bersungguh-sungguh.
5. Kembalilah pada kesadaran yang sesungguhnya. Hayati dan resapi keberadaan Anda dengan perasaan lega, karena Anda telah berhasil membuang perasaan negatif yang menyumbat semua potensi Anda. Ijinkan juga untuk Anda memaafkan diri Anda sendiri. Yang terakhir, ucapkan rasa syukur pada Tuhan karena Anda masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

***

Kalau Anda masih berfikir “Apakah semudah itu?”, inilah bukti bahwa pikiran Anda telah disabotase oleh kepentingan-kepentingan yang merumitkan perubahan hidup Anda sendiri. Dan Anda perlu mulai belajar untuk memafkan diri Anda sendiri.
Kalau bisa sederhana kenapa mesti dibuat rumit?
Dan ada baiknya segera hubungi Hipnoterapist terdekat di kota Anda !!!


*Salam  

THE ART OF LISTENING

Engkau mungkin merasa bisa bicara lancar dan mendengar secara verbal, tetapi belum tentu untuk nonverbalmu. Engkau mungkin merasa hebat cas-cis-cus dalam komunikasi tetapi lawan bicaramu sesungguhnya bingung dengan yang kau sampaikan. Engkau mungkin merasa cocok menjadi teman curhat bagi siapa saja, tetapi sayangnya tidak menjadikan solusi apa-apa.


Ada sebuah buku ditanganku saat menyelesaikan catatan ini. Buku yang cetakan pertamanya terbit di tahun 2005. Buku yang di awal lembarnya terdapat kata-kata berikut,“Words are POWERFUL tools if you want to be a LEADER of people, then you need to be a MASTER of words to be GREAT leaders, we first had to be great LISTENER”. Sebuah buku yang mengajarkanku cara mendengar yang baik dan benar. Sungguh sangat mendebarkan, membaca buku yang yang berjudul “Mendengarkan Adalah EMAS” karya Prof. Ir. Samuel H. Tirtamihardja, MSC. Anganku kemudian mengembara, mencari jawaban atas sebuah pertanyaan apa hubungan mendengarkan dengan kemampuan komunikasi?.

Pada kasus-kasus tertentu mungkin kau pernah mengalami disaat berkomunikasi dengan seseorang, tetapi seseorang tersebut mengacuhkan apa yang kau sampaikan. Percayalah, itu tentu sangat menyakitkan. Apalagi yang kau sampaikan termasuk pembicaraan yang sangat penting.

MENDENGARKAN menjadi kunci unik yang akan menghubungkan beberapaPengertian Komunikasi di bawah ini:
1. Passing On (Meneruskan)
2.  Disseminate (Membagikan)
3.  Influence (Mempengaruhi)
4. Transmit (Mengirimkan)
5.  Contact (Menghubungkan)
6.  Interaction (Interaksi)
7.  Dialogue (Dialog)
8.  Share (Membagikan)
9. To Make Common (Menyamakan Persepsi)
10.  Communicare (Menyamakan Pandangan)

Hal di atas mengajarkanku betapa pentingnya menjaga Fleksibilitas dalam berkomunikasi, sekaligus mengingatkan bahwa Kata-kata hanyalah seperangkat benda mati yang menunggu untuk dihidupkan. Dan seperti prinsip “The Map is not The Territory" dalam NLP, tentu menghargai dengan baik yang menjadi pemikiran orang lain itu jauh lebih penting dari sekedar memaksakan kehendak yang kita pikirkan.

Faktanya: Banyak orang menjadi sakit hati, tersinggung, tertekan, stress, hanya karena orang lain tidak menguasai teknik mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik.

Tuhan telah memberikan manusia sebuah lidah, namun dua telinga, sehingga kita dapat mendengarkan orang lain dua kali lipat daripada berbicara (Epictetus).

Mendengarkan seharusnya menjadi kegiatan yang lebih tinggi dari aktivitas lain setelah bernafas.

Aku memulainya dengan membuat lawan bicara senang, dengan tujuan dia merasa bebas berbicara. Sering sekali hal ini disebut “Being open” atau“Permissive environment”. Perasaan senang itu muncul saat diriku membuat: sebuah perasaan senang, menaikkan harga dirinya, membuat perasaan saling memiliki, menyepakati sebuah tujuan, dan memberi keyakinan bahwa dirinya mempunyai kemampuan.
Kelima hal tersebut ternyata mampu meningkatkan rasa percaya diri mereka, berikutnya mereka akan membuka diri.
Aku berusaha menunjukkan sikap mau mendengarkan apapun yang akan dikomunikasikannya. Berhenti berbicara saat dia tiba-tiba memotong pembicaraan, adalah bentuk sikap positifku, dan dia membacanya juga. Ada kalanya aku selipkan beberapa pertanyaan sebagai bentuk apresiasi dan empati kepadanya. Dari beberapa yang aku lakukan itu, dirinya semakin terbuka dalam bercerita.
Telah terjalin Rapport yang saling menguntungkan untuk meningkatkan intensitas komunikasi.  

Dimulai dari sinilah aku menyadari bahwa MENDENGARKAN ternyata menjadi sangat penting dalam berkomunikasi. Mempercayai bahwa kemampuan MENDENGARKAN akan membuat kemampuan KOMUNIKASI meningkat pada level tertinggi. MENDENGARKAN menjadi syarat pertama menciptakan KOMUNIKASI PERSUASIF.

Setelah itu aku bertanya pada diriku:
1.  Apakah aku pendengar yang baik?
2.  Apakah aku selalu berprasangka?
3.  Apakah aku senang menyimpulkan?
4.  Apakah aku senang mendengarkan secara selektif?
5.  Apakah aku berbicara berlebihan?
6.  Apakah aku memiliki empati?
7.  Apakah aku terlalu takut untuk mendengarkan?

Sekarang, karena kita sepakat bahwa komunikasi adalah sebuah "Karya Seni" tentu di dalamnya terdapat etika dan estetika (keindahan) yang dapat dibangun dari perjalanan kesadaran, dan aku terus berusaha memahami proses komunikasi tersebut, dengan tujuan meningkatkan kemampuan:MENDENGARKAN – MENANGGAPI – MENGARAHKAN.
Ini sungguh pengalaman luar biasa.

Jika aku seorang pengajar, akan kudengarkan semua keluhan siswa saat proses belajar
Kemudian kututup tulisan ini dengan mendengarkan desahan nafasmu, dan sebuah kalimat:
“Saat berkomunikasi, Mendengarkan menjadi senjata terakhir setelah kita kehilangan semua kata-kata”

SELAMAT BELAJAR MENDENGARKAN !!!

ISE & SSE (Sebuah Standar Terapi)

Pada kasus-kasus tertentu bentuk penanganan dalam metode Hypnotherapy sangat memperhatikan prinsip dasar Initial Sensitizing Event (ISE) dan Subsequent Sensitizing Event (SSE). Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik terapi dalam Hypnotherapy yang bersifat Regression.
ISE atau lebih dikenal dengan kejadian yang mengawali munculnya pemasalahan seringkali tidak diketahui dan disadari oleh seseorang, apalagi sudah diperkuat dengan kejadian-kejadian yang dapat memperkuat penyebab permasalahan tersebut yang dikenal dengan SSE. Dua hal tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan subjek dengan pemicu masalah. Misalnya, seorang yang mengalami traumatis kadang dengan sengaja melupakan sebuah kejadian yang terjadi di masa lalunya tetapi hal tersebut justeru menimbulkan gangguan baru pada perkembangan mentalnya.
Seorang pria paruh baya belum juga menikah karena dirinya pernah mengalami penolakan cinta yang menyakitkan di masa remajanya. Dia berusaha melupakan rasa sakitnya itu dengan cara tidak berkeinginan mencintai wanita lagi. Atau seorang wanita benci pada lelaki hanya karena pernah dikhianati, sampai-sampai tidak berani berhubungan dengan lelaki karena takut pengalamannya terulang lagi.
  

Hypnotherapy memberikan cara alternatif yang tidak instant dalam membantu memecahkan permasalahan seseorang. Untuk dua contoh kasus di atas seorang Hypnotherapist akan mencari tahu penyebab sesungguhnya yang menjadi akar permasalahan dengan teknik Affect Bridge dengan asumsi bahwa Perasaan dapat dipergunakan sebagai “jembatan” untuk mencari penyebab atau asal mula dari suatu gangguan, keluhan, atau psikosomatis. Selain itu juga dapat dilakukan dengan teknik  Age Regression (Pemunduran Usia), pelan-pelan usia seseorang dipandu mundur hingga sampai pada saat berlangsungnya kejadian tersebut. Dengan keterampilannya Hypnotherapist juga mencari hal-hal yang menguatkan sisi traumatisnya.
Beragam teknik dalam Hypnotherapy yang bersifat regresi adalah dalam rangka pencarian Kejadian yang Mengawali Permasalan (Initial Sensitizing Event-ISE) dan Kejadian Susulan yang Menjadi Penguat Permasalahan (Subsequent Sensitizing Event-SSE). Beberapa teknik yang berbasis pada ISE dan SSE dalam Hypnotherapy sering di lakukan pada kasus-kasus yang berakal pada masa lalu seseorang, seperti Trauma dan Phobia. Tujuannya adalah me-redukasi pikiran bawah sadar untuk memberikan persepsi baru yang lebih memberdayakan terhadap suatu masalah yang diterima.
Bagi seorang Hypnotherapist, mampu mengajak seseorang menemukan akar permasalahan dalam dirinya adalah kenikmatan tiada tara, dan mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang bertumpu pada Client Centered adalah keharusan.

Trance Club